Rabu, 27 April 2011

BATIK SOLO TRANS

Gambar 1. Halte Batik Solo Trans
(sumber : Dokumentasi Pribadi)


Batik Solo Trans merupakan sarana transportasi baru di kota Solo. Transportasi ini kini sudah mulai beroperasi. Batik Solo Trans ini berfungsi sama seperti busway di Jakarta. Namun yang membedakan adalah ukuran bus nya yang lebih kecil dan bentuk haltenya yang juga lebih kecil jika dibandingkan dengan halte busway di Jakarta.



Gambar 2. Perbedaan Batik Solo Trans dan Busway
( sumber : www.google.com )

Halte Batik Solo Trans memang terlihat lebih sederhana jika dibandingkan dengan halte busway di Jakarta. Halte Batik Solo Trans terdiri dari perpaduan antara unsur modern dan tradisional yang sangat tampak pada bangunannya. Haltenya didominasi warna merah dan material kaca serta dihiasi pola-pola batik pada bagian bawahnya. Atapnya juga menggunakan jenis atap yang sering digunakan pada rumah-rumah tradisional Jawa. Berbeda halnya dengan halte busway di Jakarta. Halte busway di Jakarta sangat terlihat style minimalisnya. Didominasi oleh kaca dan menggunakan atap datar. Dari segi ukuran halte busway jauh lebih besar, mungkin hal ini dikarenakan oleh jumlah calon penumpang busway yang jauh lebih banyak daripada calon penumpang Batik Solo Trans.

Gambar 3. Halte Batik Solo Trans dan Busway
( sumber : www.google.com )


Baik Batik Solo Trans maupun Busway keduanya merupakan sarana transportasi yang bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam beraktivitas dalam kesehariannya. Kedua fasilitas umum ini harus kita jaga, jangan mencorat-coret apalagi merusaknya.





Selasa, 19 April 2011

WISATA CANDI CETHO DAN CANDI SUKUH

Candi Cetho dan Candi Sukuh merupakan dua candi dari beberapa candi yang ada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah yang terletak di lereng Gunung Lawu. Bentuk bangunan Candi Cetho mempunyai kesamaan dengan Candi Sukuh. Candi Cetho merupakan sebuah candi bercorak Hindu peninggalan pemerintahan Kerajaan Majapahit. Lokasi candi berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Untuk sampai ke candi ini, kita harus melewati jalanan mendaki dan menurun lengkap dengan tikungan-tikungan tajam. Namun, sepajang perjalanan para wisatawan akan disuguhkan dengan pemandangan pegunungan dan agrowisata perkebunan teh yang sangat indah dan menawan. Candi Cetho sendiri sampai saat ini masih digunakan oleh penduduk setempat yang beragama Hindu sebagai tempat beribadah seperti pemujaan dan tempat pertapaan.



Gambar 1. Candi Cetho
(sumber : Dokumentasi Pribadi)

Sedangkan Candi Sukuh sendiri terletak di Desa Berjo, Kabupaten Karanganyar. Candi yang memiliki struktur bangunan yang unik karena bentuknya yang mirip bangunan piramid bangsa Maya ini juga tak kalah menakjubkan seperti halnya Candi Cetho. Struktur Candi Sukuh ini juga mengingatkan kita akan bentuk-bentuk piramida di Mesir. 
Candi Sukuh ini memang tidak terlalu memiliki ukiran-ukiran ataupun pahatan-pahatan yang rumit seperti halnya Candi Prambanan ataupun Candi Borobudur. Bangunan Candi Sukuh ini lebih memberikan kesan kesederhanaan.


Gambar 2. Candi Sukuh
(sumber : Dokumentasi Pribadi)

Saat memasuki pintu utama kemudian memasuki gapura terbesar akan terlihat bentuk arsitektural khas bahwa candi ini tidak disusun tegak lurus tetapi agak miring dengan bentuk trapesium. Bentukan seperti ini merupakan bentukan yang tidak lazim bagi candi-candi yang umumnya berada di Jawa Tengah. Candi Sukuh ini juga tergolong kontroversial, karena adanya bentukan-bentukan arca maupun relief yang melambangkan seksualitas.

Gambar 3. Kerusakan arca-arca pada Candi Cetho dan Candi Sukuh
(sumber : Dokumentasi Pribadi)

Terlepas dari kontroversi dan lain sebagainya mengenai kedua candi ini, keduanya tetaplah merupakan warisan kebudayaan dan sejarah Bangsa Indonesia. Terlihat pada kedua candi ini bahwa dari arca-arcanya sendiri sudah banyak yang rusak (banyak yang tidak memiliki kepala). Untuk itu kita berkewajiban untuk merawat dan melestarikannya agar peninggalan sejarah ini tidak hilang ditelan zaman.

Sabtu, 16 April 2011

Perpustakaan Baru UI



Gambar 1. Perpustakaan Baru UI
(sumber : Dokumentasi Pribadi)

Siapa yang tak kenal dengan Universitas Indonesia. Saat ini, di dalam kompleks salah satu Universitas terkemuka di Indonesia ini tengah dibangun bangunan baru yang akan difungsikan sebagai bangunan perpustakaan. Bangunan perpustakaan dengan bentuk modern dan megah ini kini sudah terbangun dan sedang dalam proses finishing akhir. Pembangunan perpustakaan ini menambah lagi perbendaharaan bangunan-bangunan dengan bentukan-bentukan modern di kompleks Universitas Indonesia ini. Perpustakaan baru UI yang akan menjadi perpustakaan semua fakultas yang ada di UI ini berada tepat ditepi danau UI. Posisinya terbilang sangat pas karena menyuguhkan nuansa tersendiri jika dilihat dari berbagai sudut pandang. Bangunan perpustakaan ini juga mengaplikasikan taman atap atau roof garden pada atap bangunannya, sehingga memperlihatkan bahwa bangunan ini mendukung program penghijauan kembali bumi.
Apabila dipandang sekilas, bangunan perpustakaan ini sangat “good looking” dari segi bentuk dan posisinya. Namun, apabila diperhatikan lebih seksama dengan lingkungan di sekitarnya, bangunan perpustakaan ini terkesan menjadi tidak menyatu dengan bangunan-bangunan yang berada di sekitarnya atau terlihat sangat kontras dengan lingkungannya.


Gambar 2. Perpustakaan baru bersebelahan dengan masjid UI
(sumber : Dokumentasi Pribadi)

Bangunan perpustakaan modern ini berada bersebelahan dengan masjid UI yang bentuknya sangat jauh dari kesan modern. Mayoritas bangunan-bangunan di Universitas Indonesia memang dapat dikatakan memiliki ciri khas yang terkenal dengan bata merah eksposnya. Hal ini menjadikan suatu karakter tersendiri dari bangunan-bangunan yang berada di dalam kawasan Universitas ini. Namun hal ini tidak terlihat pada bangunan perpustakaan baru ini, karena bentukannya sangat berbeda 180 derajat dari bangunan-bangunan yang umumnya berada di Universitas Indonesia. Dengan dibangunnya bangunan perpustakaan ini, maka menimbulkan keragaman baru bagi bangunan-bangunan yang berada di kawasan Universitas Indonesia. Karena bangunan perpustakaan ini telah menampilkan wajah baru dalam kompleks Universitas terkemuka di Indonesia ini.






ASTANA GIRI BANGUN



Gambar 1. Gerbang Masuk
(sumber : Dokumentasi Pribadi)

Astana Giri Bangun adalah sebuah kompleks pemakaman bagi keluarga mantan Presiden Republik Indonesia ke-2, Soeharto. Lokasinya berada di sebelah timur kota Surakarta, tepatnya di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Makam ini dibangun di atas sebuah bukit yang berada dekat dengan makam Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara yaitu Astana Mangadeg. Selain bangunan untuk pemakaman, pada Astana Giri Bangun ini juga terdapat bangunan-bangunan pendukung lainnya. Di antaranya adalah masjid, rumah tempat peristirahatan bagi keluarga Soeharto jika berziarah, kamar mandi, gapura utama, dua tempat tunggu atau tempat istirahat bagi para peziarah, rumah jaga dan tempat parkir yang sangat luas. Di area ini juga terdapat kios-kios pedagang yang berjualan suvenir maupun makanan untuk melayani peziarah dan wisatawan.


Gambar 2. Gerbang Bangunan Utama
(sumber : Dokumentasi Pribadi)

Bangunan utama kompleks makam ini berbentuk joglo layaknya bangunan tradisional Jawa. Untuk sampai di bangunan utama makam, kita harus melalui beberapa undakan anak tangga. Memasuki bangunan utama makam, kita akan dihadapkan pada pintu masuk dengan ukiran-ukiran. Dinding-dinding kayunya juga dihiasi ukiran-ukiran yang sangat detail dan rumit.  Kolom-kolom (pilar-pilar) berdiri dengan kokoh dan rapi menghiasi interiornya.




Gambar 3. Interior Bangunan Utama
(sumber : Dokumentasi Pribadi)

Desain bangunan utama kompleks makam ini memang terlihat sangat megah layaknya rumah bangsawan Jawa. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat kompleks makam ini diperuntukan bagi keluarga besar mantan orang nomor satu di Indonesia.